Jumat, 26 Oktober 2012


Beasiswa DataPrint

0
Data Print adalah sahabat printer kita. DataPrint mengadakan beasiswa pendidikan bagi pelajar dan juga mahasiswa lohhh. Cara mengikuti beasiswa ini gampang kog teman-teman, kita cuma disuruh membuat essay yang temanya ditentukan oleh Data Print. Panjang essay nya minimal 100 kata dan maksimal 500 kata. Ayo dong, bagi teman-teman yang hobi tulis-menulis dan kebetulan memakai tinta printer Data Print, harus mencoba nih... Karena, selain kita bisa dapat beasiswa dari Data Print, kita juga bisa mengetahui kemampuan menulis kita loh. Mari gali potensi mu dalam menulis.. ^_^

Ini nihh, riris kasih bagaimana syarat-syarat mengikuti lombanya:
Persyaratan Lomba

Selamat mencoba ya teman-teman, semoga beruntung..
:D

Tugas Ujian Tengah Semester Psikologi Belajar TA. 2012/2013: Pengaplikasian Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget Dalam Pembelajaran Di Kelas

0
KELOMPOK 5... ^_^

Lisa Chairani (10-015)
Juanita Sari Br. Tarigan (10-019)
Christian Yosie W (10-099)
Christin Siahaan (10-107)


Teori perkembangan kognitif Piaget
       Menemukan asal muasal logika alamiah dan transformasinya dari satu bentuk penalaran ke penalaran lain, hakikat konstruktivitas dari kecerdasan dan faktor-faktor esensial dalam perkembangan kognitif. Proses mengetahui diciptakan dalam interaksi seseorang dengan lingkungan  untuk mengetahui dengan cara bertindak melalui observasi dan eksperimentasi.
       Perkembangan kognitif adalah pertumbuhan pemikiran logis dari bayi hingga dewasa, yang menghasilkan konstruksi baru dari konstruksi sebelumnya yaitu : skema tindakan, operasi konkret, dan formal. Dengan memfasilitasi pemikiran logis member kesempatan luas untuk eksperimentasi dengan objek fisik yang didukung oleh interaksi antarteman dan pertanyaan guru. Serta menjaga relasi timbale balik antara anak dan pendidikan.
Pengaplikasian teori dalam kelas berupa “YEL-YEL KELOMPOK”
Caranya :
  • Setiap kelompok harus membuat yel-yel baru pada setiap pertemuan
  • Lirik dari yel-yel harus ada sangkut pautnya dengan teori pada topic yang telah disepakati.
  • Dan setiap kelompok harus bersiap untuk ditunjuk dosen menyajikan yel-yelnya, walaupun dipilih secara acak, tetap saja setiap kelompok harus mempersiapkan yel-yelnya, kerena lirik dari yel-yel tersebut adalah pemahaman teori dari apa yang kita baca di buku. Jadi mau tidak mau kita harus aktif belajar sebelum kuliah berlangsung.
  • Di sini kemampuan sensori dan kognitif kita juga dilatih untuk aktif selalu.
Aplikasi ini kami pilih karena pada teori Piaget ada 3 tujuan umum kompatibel dengan kurikulum :
  1. Pengembangan otonomi anak melalui situasi interaktif
  2. Menyebarkan dan mengordinasikan beragan sudut pandang anak  
  3. Mengembangkan kesiapan, keingintahuan, inisiatif, dan kepercayaan diri dalam belajar. 
Operasi Konkret : proses bertahap yang mencakup konflik kognitif, kemudian dipengaruhi berbagai pilihan, dan akhirnya resolusi konflik secara logis. 
Opersi Formal : satu efek dalam stu situasi mungkin disebabkan oleh beberapa faktor, atau satu faktor kausal bisa diiringi atau ditutupi oleh beberapa faktor berbeda.
       Seperti aplikasi yel-yel di atas pada pembelajaran, siswa dituntut berinisiaif dan percaya diri dalam belajar walaupun dipengaruhi berbagai pilihan yaitu harus membuat yel-yel  dan harus bertanya dalam bebtuk yel-yel juga tapi akhirnya siswa menemukan solusi dari konflik kognitifnya, karena adanya interaksui antara teman dan dosen ataupun pendidik.
   

Minggu, 21 Oktober 2012


PEMROSESAN INFORMASI

0


Judul    : Pemrosesan Informasi Dalam Belajar Gerak
Penulis : Slamet Riyadi
Asal     : FKIP UNS

PEMBAHASAN

        Dalam jurnal ini dikatakan bahwa keterampilan bergerak bukan hanya disebabkan oleh faktor kematangan gerak, tetapi juga disebabkan oleh proses belajar gerak. Hal ini tentu tidak terlepas dari penguasaan dan pemrosesan informasi yang diterima selama proses pembelajaran oleh peserta didik. Informasi yang diterima selama pembelajaran gerak akan disimpan dalam sistem penyimpanan informasi, yang terdiri dari memori sensori (sensory memory), memori jangka pendek (short term memory), dan memori jangka panjang (long term memory).

A. BELAJAR GERAK

Berikut adalah tahapan belajar gerak:
  
1. Tahap Formasi Rencana
Terdiri atas 3 tahap, yaitu: 
  a. Tahap menerima dan memproses masukan
  b. Proses kontrol dan keputusan
  c. Unjuk kerja keterampilan.

2. Tahap Latihan
3. Tahap Otmatisasi

 B. INFORMASI

       Dalam melakukan aktivitas fisik sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan yang masuk lewat input sensori. Input biasanya diwakili oleh sebuah stimulus yang dihadirkan selama pembelajaran gerak, yang lebih sering hadir dalam konteks stimulus lingkungan yang bertumpuk-tumpuk.

Berikut adalah  tahapan pemrosesan informasi: 

 1. Identifikasi stimulus sebagai persepsi
 2. Seleksi respons sebagai keputusan 
 3.  Pemrograman respon sebagai aksi

C. MEMORI

       Tiga tahapan utama pembentukan dan pengambilan memori dalam proses pengolahan informasi tersebut, adalah:
* Encoding atau pendaftaran (menerima, pengolahan dan menggabungkan informasi yang diterima)
* Penyimpanan (penciptaan catatan permanen dari informasi yang dikodekan)
* Retrieval , mengingat atau ingatan (memanggil kembali informasi yang disimpan dalam menanggapi beberapa isyarat untuk digunakan dalam proses atau kegiatan)

Jenis-jenis memori
 a. Memori sensori (sensory memory)
 b. Memori jangka pendek (short term memory)
 c. Memori jangka panjang (long term memory)

 Tahapan-tahapan ingatan (memory):

a. Memasukkan (learning)
Cara memperoleh ingatan pada dasarnya dibagi menjadi dua, yaitu: 1). secara sengaj

2). secara tidak disengaja 

b. Menyimpan
c. Menimbulkan kembali

D.  PEMROSESAN INFORMASI DALAM BELAJAR GERAK

1. Masukan (input)
2. Pengambilan keputusan (decision making) 
3. Keluaran (output)

 Kesimpulan 

      Dari jurnal yang saya baca, dijelaskan bahwa proses gerak juga disebabkan oleh adanya pemrosesan informasi yang dimana informasi tersebut selama pembelajaran gerak akan disimpan dalam sistem penyimpanan informasi, yang terdiri dari memori sensori (sensory memory), memori jangka pendek (short term memory), dan memori jangka panjang (long term memory).

      Dalam buku learning and instruction juga dikatakan bahwa komponen utama dalam pembelajaran adalah dari perspektif pemrosesan informasi. Dimana  pemrosesan informasi adalah memperkaya pengatahuan yang telah dimiliki pemelajar, mengorganisasikan materi yang akan dipelajari, memfasilitasi perhatian pemelajar, mengkodekan dan mengonstruksi makna, dan mengajari siswa strategi untuk memperkaya pemahaman mereka.  

      Jadi jika dikaitkan dengan kasus yang terdapat dalam jurnal, hal ini tentu sangat sesuai, karena seperti yang kita tahu, banyak sekali orang yang selama ini berpikir bahwa seorang dapat bergerak hanya dikarnakan faktor kematangan gerak, tetapi ternyata persepsi tentang hal itu kurang tepat, karena dalam bergerak, begitu banyak stimulus yang diperlukan agar seseorang dapat bergerak dengan benar. 
 

Rabu, 10 Oktober 2012


Berkreasi Dengan Stimulus-Stimulus Sederhana

2

    














     Hari ini dalam kuliah psikologi belajar kami disuruh membuat  produk dari 3 buah stimulus dalam waktu 30 menit. Saya yang terlambat datang cukup kaget melihat teman-teman saya sudah duduk dan dan mulai mengerjakan tugas tersebut. Begitu dosen pengampu mata kuliah ini memberikan saya 3 buah stimulus tersebut, saya mulai bingung mau membuat apa. Saya mendapatkan sebuah kertas HVS, sebuah Sertifikat tentang diet media, dan juga sebuah kertas karton kecil.  

      Pada awalnya saya benar-benar tidak tau ingin membuat apa dengan stimulus-stimulus tersebut. Yang saya pikirkan awalnya adalah membuat sebuah produk yang sangat menarik dan juga indah. Tapi saya merasa sangat sulit membuat produk yang demikian hanya dalam waktu 30 menit dan dengan 3 stimulus tersebut. Lalu saya mengingat kegiatan kesenian saat saya masih SD, saat itu kami disuruh membuat sebuah kerajinan tangan dari karton bekas dan harus dibuat sendiri tanpa bantuan orang lain. saya membuat sebuah bingkai foto, yang bisah digantung didinding serta bisa diletakkan diatas meja. Hasil karya tersebut dinilai cukup baik oleh guru kesenian saya, dan saya sangat senang.

      Berdasarkan pengalaman itu, saya membuat kembali hal serupa pada mata kuliah ini. saya menggunakan sertifikat untuk latar bingkai, saya menggunakan kertas HVS untuk pinggir bingkai, dan menggunakan karton kecil untuk penyangga belakang bingkai serta penyobek nya sedikit untuk membuat gantungan diatasnya. 

      Pembelajaran, itulah yang menyebabkan saya kembali melakukan hal yang dulu pernah saya lakukan. Pembelajaran bisa diperoleh melalui apa saja, baik hal yang positif atau pun negatif. Dalam hal ini saya mendapatkan pembalajaran melalui hal positif yang dinilai positif juga oleh guru saya saat itu, hal positif ini lah (yang setelah saya masuk Psikologi USU saya ketahui bahwa istilahnya adalah reinforcement positif) yang saya jadikan alasan untuk kembali melakukan hal yang sama dalam kuliah psikologi belajar ini.

Selasa, 09 Oktober 2012


ANALISA PENGALAMAN PRIBADI (TEORI SKINNER)

0
       Saat SMA, saya tinggal disebuah asrama khusus putri. Diasrama itu ada peraturan setiap malam harus belajar didalam ruang belajar mulai dari pukul 18:00 sampai pukul 20:30. Malam itu saya sedang malas sekali belajar, dan kebetulan saya sedang tidak ada tugas, begitu pula dengan teman sebangku saya. Jadi kami memutuskan untuk mengobrol tetapi dengan suara yang pelan, agar tidak mengganggu teman-teman yang lain dan juga agar tidak ketahuan oleh suster pengawas. Tetapi ternyata suster itu sudah memperhatikan kami yang dari awal tidak niat belajar. Setelah selesai belajar, dan bersiap-siap untuk berdoa penutup, dia menegur kami berdua ditengah-tengan 150 orang teman-teman yang lain. Kami berdua sangat malu dan merasa tidak enak hati dengan teman-teman yang lain dan juga dengan suster pengawas tersebut. Mulai sejak itu saya tidak berani lagi bermain-main didalam ruang belajar tersebut.

       Dari pengalaman tersebut saya merasa teguran yang diberikan oleh suster itu kepada saya sebagai reinforcement negative, karena dia menegur saya dan teman saya didepan teman-teman yang lain, hal itu  membuat saya merasa malu, dan karena adanya rasa malu terhadap teman-teman yang lain, saya jadi jera untuk melakukan hal tersebut dikemudian hari.

Senin, 08 Oktober 2012


KINKY BOOTS

0


Lisa Chairani (10-015)

Juannita Sari (10-019)
Christian Yosie (10-099)
Christin Siahaan (10-107)

Sinopsis Film :


      Film ini bercerita tentang seorang pria bernama Charlie Price. Dia adalah anak seorang pengusaha sepatu "Price & Sons" yang sekaligus pewaris dari perusahaan tersebut. Ketika ayahnya meninggal, dia terpaksa meneruskan perusahaan itu. Tetapi ternyata perusahaan tersebut sudah hampir bangkrut dan Charlie harus berusaha membangkitkan perusahaan keluarganya tersebut. Dengan berat hati, Charlie harus melakukan PHK terhadap beberapa karyawan, tetapi ada seorang karyawannya yang protes atas tindakan Charlie tersebut. Oleh sebab itu Charlie semakin bingung harus berbuat apa.



      Ditengah masalah yang menimpanya, Charlie bertemu dengan seorang waria yang bernama Lola (Simon), seorang waria yang berprofesi sebagai seorang penyanyi cabaret. Dalam pertemuan itu Charlie melihat kesulitan yang dialami Lola setiap kali memakai sepatu, dari pengalaman Lola tersebut, Charlie mendapatkan ide untuk mendesain sepatu untuk para waria dan Lola dijadikan sebagai desainer, hal ini didukung oleh seorang pegawai Charlie bernama Laurent.



      Charlie sangat antusias dengan idenya tersebut, oleh sebab itu dia berusaha untuk membuat sepatu boots warna merah terbaik untuk Lola. Tetapi ternyata sepatu yang dibuat oleh Charlie tidak sesuai dengan harapan Lola. Lola sangat marah dan tersinggung kepada Charlie, karena sepatu yang dia buat dengan warna merah tidak seperti harapan Lola. Oleh karena itu Charlie dengan susah payah meyakinkan Lola bahwa dia dapat memperbaiki semua kesalahan yang dia buat terhadap sepatu itu. Charlie bahkan harus rela menggadaikan rumahnya dan putus dengan tunangannya hanya untuk mempromosikan produk buatannya itu ke Milan (pusat mode).



      Di Milan Charlie banyak sekali mengalami hal yang tidak dia harapkan, tetapi dia tidak pernah patah semangat untuk terus maju dan membangkitkan perusahaan warisan ayahnya. Berkat kerja samanya dengan Lola, dia melakukan perubahan dari seorang anak yang tidak peduli dengan perusahaan ayah nya menjadi seorang anak yang bertanggung jawab bukan hanya kepada perusahaan ayahnya tersebut, tetapi juga kepada para karyawan yang sebelumnya telah dia PHK.


Analisa Film :


      Setelah menonton film "Kinky Boots" kelompok kami mengaitkan beberapa teori belajar dalam film tersebut. Diantaranya teori belajar Gestalt dan Teori Belajar Thorndike.


Berdasarkan teori Gestalt
Teori Belajar awal Gestalt, pada asumsi dasar kedua dan ketiga yang menyatakan bahwa individu memahami aspek dari lingkungan sebagai organisasi stimuli, dan merespons berdasarkan persepsi tersebut. Ketika Charlie bertemu dengan lola dan mendapatkan ide untuk membuat sepatu boots khusus buat waria. 
Berdasarkan Hukum Belajar Thorndike yaitu pemecahan masalah-masalah adalah melibatkan pembentukan asosiasi atau koneksi antara stimulus (masalah) dan respon yang tepat. Dapat dilihat dari kerja keras dan kekompakan antara Charlie, Lola dan seluruh pegawai perusahaan yang akhirnya berhasil memproduksi sepatu yang akan ditampilkan di Milan. Sehingga perusahaan itu terselamatkan dari kebangkrutan dan sepatu kinky boots diterima pasar.

Selasa, 02 Oktober 2012


HASIL DISKUSI KELOMPOK TERHADAP BAB 2

0

      Behaviorisme didirikan oleh seorang tokoh bernama B. Watson. Behaviorisme menjadi aliran dominan dari 1920-an, namun ia tidak sepenuhnya bebas dari penantang. Pendapat yang menantangnya, yakni psikologi Gestalt, menekankan pada pentingnya persepsi pemelajar dalam situasi pemecahan masalah dan karenannya ia membahas persoalan kognisi.

Pengkondisian Klasik dan Koneksionisme

      Ada 2 pendekatan awal untuk mempelajari perilaku yaitu : pengkondisian klasik dan koneksionisme. keduanya memprioritaskan belajar dan berhasil mengolah berbagai perilaku dalam laboratorium.

Argumen Dasar Behaviorisme

      Jhon Watson mendukung studi perilaku karena semua organisme menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui respon, dan respon-respon tertentu biasanya disebabkan oleh peristiwa (stimuli) tertentu. Dengan mempelajari perilaku, psikolog akan mampu untuk memprediksi respon yang ditimbulkan lewat stimulus, dan sebaliknya. 
      Setelah mendalami studi perilaku dan membaca sebuah riset karya Bekheterev, Watson semakin yakin bahwa kontrol perilaku didunia nyata akan segera dapat dilakukan.

Asumsi Dasar

      Behaviorisme merujuk pada beberapa teori yang mengandung tiga asumsi dasar tentang belajar. Yaitu:
1. Fokus studi seharusnya adalah perilaku yang dapat diamati, bukan kejadian mental internal atau rekonstruksi verbal atas kejadian. 
2. Perilaku harus dipelajari melalui elemennya yang paling sederhana (stimuli spesifik dan respon spesifik).
3. Proses belajar adalah perubahan behavioral.

Pavlov dan Pengkondisian Klasik atau Refleks
      
      Eksperimen terkenal terhadap refleks dilakukan di laboratorium Ivan Pavlov. Eksperimennya tersebut melibatkan seekor anjing. Dimana dia melihat reaksi tidak sengaja antara suara, liur, dan respon anjing.

Pavlov dan Kaum Bolshevik

      Masa-masa revolusi Bolshevik (1917-1921) adalah masa-masa sulit bagi Pavlov, keluarganya, dan laboratoriumnya. Rumah Pavlov beberapa kali dicari-cari, hendak dibakar, dan keluarganya melarikan diri dari tempat di mana ia tinggal di sekitar Institute of Experimental Medicine.
      Pada Juni 1920, saat berusia 70 tahun. Pavlov menulis surat kepada pemerintah untuk minta izin beremigrasi. Kemudian ia menerima tunjangan hidup, jatah makan yang dipilh sendiri, mendapatkan pekerjaan, dan dukungan laboratorium.

Riset di Laboratorium Pavlov

Riset di laboratorium Pavlov ini penting karena 2 sebab.
1. Menunjukkan bahwa reaksi keluarnya air liur adalah reflex.
2. mengubah relasi alamiah antara stimulus dan reaksi itu dianggap sebagai terobosan penting dalam studi perilaku.



Paradigma Pengkondisian Klasik

      Proses pengkondisian klasik terdiri dari tiga tahap, yaitu:
1. Pra eksperimental, relasi alami antara stimulus dan reaksi.
2. Periset memasangkan stimulus asli dengan stimulus baru yang tidak ada kaitannyadengan reaksi.
3. Percobaan berulang-ulang.

Konsep Terkait

      Efek dari pengkondisian Pavlovian adalah :
a.       munculnya riset terhadap kelangsungan hidup hewan di lingkungan alam
b.      perkembangan proses yang disebut kontra pengkondisian (counter-conditioning)

Pengkondisian Klasik dan Reaksi Obat

      Dalam riset Pavlov, reaksi air liur yang keluar saat melihat orang memberi makan (reaksi terhadap petunjuk
pra-makan)  adalah model pengembangan toleransi obat adiktif (CCRs yang merespons pada konteks 
pemberian obat yang biasa).

Behaviorisme John Watson

      Watson memberi kontribusi pada perkembangan psikologi melalui tiga cara:
1. Dia mengorganisasikan temuan riset pengkondisian kedalam perspektif baru, yakni behaviorisme, dan membujuk psikolog lain untuk memahami arti penting dari pendapatnya.
2. Kontribusi dari karyanya adalah memperluas metode pengkondisian klasik kerespon emosional pada manusia.
3. Karyanya meningkatkan status belajar sebagai topik dalm psikologi.

Teori Emosi

      Watson mengidentifikasi tiga reaksi emosional bayyi yang bersifat naluriah, yaitu reaksi yang terjadi 
secara alami. Reaksi tersebut adalah cinta, marah dan takut (Watson, 1928; Watson & Morgan, 1917). 
Watson sepakat dengan Sigmund Freud, bahwa kehidupan emosi dewasa dimulai sejak masa bayi dan 
emosi itu dapat ditransfer dari satu objek/kejadian ke objek/kejadian lainnya (Watson & Morgan, 1917). 
Watson menunjukkan teorinya dalam eksperimen dengan Albert, bayi berusia 11 bulan. Reaksi takut Albert 
dikondisikan ke tikus putih dan reaksi ini ditransfer ke kelinci putih.

Koneksionisme Edward Thorndike

      Thorndike dirujuk sebagai sebagai teori bahavioris, tetapi ia berbeda dengan pengkondisian klasik  
dalalam dua hal. Pertama, Dia tertarik dengan proses mental. Kedua, Thorndike meneliti perilaku mandiri 
atau sukarela. Thorndike memilih bereksperimen dalam kondisi terkontrol untuk mengembangkan teorinya. 
Teori Thorndike ini dikenal sebagai koneksionisme karena hewan membangun koneksi antara stimuli 
particular dengan perilaku mandiri.

      Hasil penelitian Thorndike terhadap beberapa hewan, Dia mengidentifikasi tiga hukum belajar. 
Pertama, hukum efek (laws of effects) menyatakan bahwa suatu keadaan yang memuaskan setelah respons 
akan memperkuat koneksi antara stimulus dan perilaku yang tepat, dan keadaan yang menjengkelkan akan 
melemahkan koneksi tersebut. Hukum efek penting karena dapat mengidentifikasi mekanisme baru dalam 
proses belajar. 
Kedua, hukum latihan (law of exercise) menyatakan bahwa perulangan atau repetisi dari pengalaman akan 
meningkatkan peluang respons yang benar. 
Ketiga, hukum kesiapan (law of readiness) mendeskripsikan kondisi yang mengatru keadaan yang disebut 
sebagai “memuaskan” atau “menjengkelkan”. 

Psikologi Gestalt

      Fokus awal riset Gestalt adalah pengalaman persepsi. Bersama dengan Kurt Koffka dan Wolfgang 
Kohler, Wertheimer mengembangkan hukum persepsi dan mengaplikasikan konsep ini ke belajar dan 
pemikiran. 
Riset yang dilakukan psikologi Gestalt terhadap persepsi visual menunjukkan bahwa:
a.       Ciri global dideteksi sebagai keseluruhan, bukan sebagai elemen-elemen sederhana
b.      Proses ini konstruktif karena individual sering menstransformasikan input visual yang tidak lengkap ke dalam citra perseptual yang lebih jelas.
Teori ini memantapkan studi eksperimental atas persepsi dan psikologi sosial. Teori ini juga menimbulkan 
pertanyaan baru tentang pemecahan masalah-masalah dan pemikiran.

PERBANDINGAN ANTARA BEHAVIORISME DAN GESTALT

      Kedua teori ini mengilustrasikan perkembangan pengetahuan melalui pengukuran yang akurat dan riset dalam kondisi yang terkontrol.

Aplikasi ke Pendidikan
Behaviorisme mendefinisikan belajar sebagai perubahan perilaku dan mengidentifikasi stimuli dan respons spesifik sebagai focus riset, sedangkan psikologi Gestalt berpendapat bahwa seseorang merespons stimuli yang terorganisasi dan persepsi perorangan adalah faktor penting untuk memecahkan masalah.

Behaviorisme
      Pengkondisian klasik menunjukkan bahwa penjajaran stimuli dapat menghubungkan reaksi terhadap stimuli baru. Pengkondisian klasik juga membahas aspek-aspek dari situasi sehari-hari, misalnya untuk hari pertama anak, di kelas taman kanak-kanak dan sekolah dasar, aktivitas yang dilakukan haruslah kegiatan yang dapat menghindari asosiasi kecemasan dan perasaan negative lainnya terhadap latar sekolah. 

Psikologi Gestalt
Isu yang diangkat psikologi Gestalt untuk masalah pendidikan adalah soal makna, pemahaman, dan wawasan yang merupakan karakteristik manusia. Komputer, dapat menjadi pemecah masalah manusia, setelah masalahnya dipahami.
Kesulitan dalam mengaplikasikan perspektif Gestalt di kelas adalah kurangnya prinsip yang terdefinisikan dengan jelas. Periset Gestalt mengemukakan beberapa saran untuk pembelajaran memecahkan masalah, yaitu :
1.  membuat tugas dalam belajar di dalam situasi yang konkrit dan akurat.
2. asistensi selama pemecahan masalah tidak boleh berupa prosedur pengulangan dan peniruan.