Senin, 08 Oktober 2012


KINKY BOOTS

0


Lisa Chairani (10-015)

Juannita Sari (10-019)
Christian Yosie (10-099)
Christin Siahaan (10-107)

Sinopsis Film :


      Film ini bercerita tentang seorang pria bernama Charlie Price. Dia adalah anak seorang pengusaha sepatu "Price & Sons" yang sekaligus pewaris dari perusahaan tersebut. Ketika ayahnya meninggal, dia terpaksa meneruskan perusahaan itu. Tetapi ternyata perusahaan tersebut sudah hampir bangkrut dan Charlie harus berusaha membangkitkan perusahaan keluarganya tersebut. Dengan berat hati, Charlie harus melakukan PHK terhadap beberapa karyawan, tetapi ada seorang karyawannya yang protes atas tindakan Charlie tersebut. Oleh sebab itu Charlie semakin bingung harus berbuat apa.



      Ditengah masalah yang menimpanya, Charlie bertemu dengan seorang waria yang bernama Lola (Simon), seorang waria yang berprofesi sebagai seorang penyanyi cabaret. Dalam pertemuan itu Charlie melihat kesulitan yang dialami Lola setiap kali memakai sepatu, dari pengalaman Lola tersebut, Charlie mendapatkan ide untuk mendesain sepatu untuk para waria dan Lola dijadikan sebagai desainer, hal ini didukung oleh seorang pegawai Charlie bernama Laurent.



      Charlie sangat antusias dengan idenya tersebut, oleh sebab itu dia berusaha untuk membuat sepatu boots warna merah terbaik untuk Lola. Tetapi ternyata sepatu yang dibuat oleh Charlie tidak sesuai dengan harapan Lola. Lola sangat marah dan tersinggung kepada Charlie, karena sepatu yang dia buat dengan warna merah tidak seperti harapan Lola. Oleh karena itu Charlie dengan susah payah meyakinkan Lola bahwa dia dapat memperbaiki semua kesalahan yang dia buat terhadap sepatu itu. Charlie bahkan harus rela menggadaikan rumahnya dan putus dengan tunangannya hanya untuk mempromosikan produk buatannya itu ke Milan (pusat mode).



      Di Milan Charlie banyak sekali mengalami hal yang tidak dia harapkan, tetapi dia tidak pernah patah semangat untuk terus maju dan membangkitkan perusahaan warisan ayahnya. Berkat kerja samanya dengan Lola, dia melakukan perubahan dari seorang anak yang tidak peduli dengan perusahaan ayah nya menjadi seorang anak yang bertanggung jawab bukan hanya kepada perusahaan ayahnya tersebut, tetapi juga kepada para karyawan yang sebelumnya telah dia PHK.


Analisa Film :


      Setelah menonton film "Kinky Boots" kelompok kami mengaitkan beberapa teori belajar dalam film tersebut. Diantaranya teori belajar Gestalt dan Teori Belajar Thorndike.


Berdasarkan teori Gestalt
Teori Belajar awal Gestalt, pada asumsi dasar kedua dan ketiga yang menyatakan bahwa individu memahami aspek dari lingkungan sebagai organisasi stimuli, dan merespons berdasarkan persepsi tersebut. Ketika Charlie bertemu dengan lola dan mendapatkan ide untuk membuat sepatu boots khusus buat waria. 
Berdasarkan Hukum Belajar Thorndike yaitu pemecahan masalah-masalah adalah melibatkan pembentukan asosiasi atau koneksi antara stimulus (masalah) dan respon yang tepat. Dapat dilihat dari kerja keras dan kekompakan antara Charlie, Lola dan seluruh pegawai perusahaan yang akhirnya berhasil memproduksi sepatu yang akan ditampilkan di Milan. Sehingga perusahaan itu terselamatkan dari kebangkrutan dan sepatu kinky boots diterima pasar.

Selasa, 02 Oktober 2012


HASIL DISKUSI KELOMPOK TERHADAP BAB 2

0

      Behaviorisme didirikan oleh seorang tokoh bernama B. Watson. Behaviorisme menjadi aliran dominan dari 1920-an, namun ia tidak sepenuhnya bebas dari penantang. Pendapat yang menantangnya, yakni psikologi Gestalt, menekankan pada pentingnya persepsi pemelajar dalam situasi pemecahan masalah dan karenannya ia membahas persoalan kognisi.

Pengkondisian Klasik dan Koneksionisme

      Ada 2 pendekatan awal untuk mempelajari perilaku yaitu : pengkondisian klasik dan koneksionisme. keduanya memprioritaskan belajar dan berhasil mengolah berbagai perilaku dalam laboratorium.

Argumen Dasar Behaviorisme

      Jhon Watson mendukung studi perilaku karena semua organisme menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui respon, dan respon-respon tertentu biasanya disebabkan oleh peristiwa (stimuli) tertentu. Dengan mempelajari perilaku, psikolog akan mampu untuk memprediksi respon yang ditimbulkan lewat stimulus, dan sebaliknya. 
      Setelah mendalami studi perilaku dan membaca sebuah riset karya Bekheterev, Watson semakin yakin bahwa kontrol perilaku didunia nyata akan segera dapat dilakukan.

Asumsi Dasar

      Behaviorisme merujuk pada beberapa teori yang mengandung tiga asumsi dasar tentang belajar. Yaitu:
1. Fokus studi seharusnya adalah perilaku yang dapat diamati, bukan kejadian mental internal atau rekonstruksi verbal atas kejadian. 
2. Perilaku harus dipelajari melalui elemennya yang paling sederhana (stimuli spesifik dan respon spesifik).
3. Proses belajar adalah perubahan behavioral.

Pavlov dan Pengkondisian Klasik atau Refleks
      
      Eksperimen terkenal terhadap refleks dilakukan di laboratorium Ivan Pavlov. Eksperimennya tersebut melibatkan seekor anjing. Dimana dia melihat reaksi tidak sengaja antara suara, liur, dan respon anjing.

Pavlov dan Kaum Bolshevik

      Masa-masa revolusi Bolshevik (1917-1921) adalah masa-masa sulit bagi Pavlov, keluarganya, dan laboratoriumnya. Rumah Pavlov beberapa kali dicari-cari, hendak dibakar, dan keluarganya melarikan diri dari tempat di mana ia tinggal di sekitar Institute of Experimental Medicine.
      Pada Juni 1920, saat berusia 70 tahun. Pavlov menulis surat kepada pemerintah untuk minta izin beremigrasi. Kemudian ia menerima tunjangan hidup, jatah makan yang dipilh sendiri, mendapatkan pekerjaan, dan dukungan laboratorium.

Riset di Laboratorium Pavlov

Riset di laboratorium Pavlov ini penting karena 2 sebab.
1. Menunjukkan bahwa reaksi keluarnya air liur adalah reflex.
2. mengubah relasi alamiah antara stimulus dan reaksi itu dianggap sebagai terobosan penting dalam studi perilaku.



Paradigma Pengkondisian Klasik

      Proses pengkondisian klasik terdiri dari tiga tahap, yaitu:
1. Pra eksperimental, relasi alami antara stimulus dan reaksi.
2. Periset memasangkan stimulus asli dengan stimulus baru yang tidak ada kaitannyadengan reaksi.
3. Percobaan berulang-ulang.

Konsep Terkait

      Efek dari pengkondisian Pavlovian adalah :
a.       munculnya riset terhadap kelangsungan hidup hewan di lingkungan alam
b.      perkembangan proses yang disebut kontra pengkondisian (counter-conditioning)

Pengkondisian Klasik dan Reaksi Obat

      Dalam riset Pavlov, reaksi air liur yang keluar saat melihat orang memberi makan (reaksi terhadap petunjuk
pra-makan)  adalah model pengembangan toleransi obat adiktif (CCRs yang merespons pada konteks 
pemberian obat yang biasa).

Behaviorisme John Watson

      Watson memberi kontribusi pada perkembangan psikologi melalui tiga cara:
1. Dia mengorganisasikan temuan riset pengkondisian kedalam perspektif baru, yakni behaviorisme, dan membujuk psikolog lain untuk memahami arti penting dari pendapatnya.
2. Kontribusi dari karyanya adalah memperluas metode pengkondisian klasik kerespon emosional pada manusia.
3. Karyanya meningkatkan status belajar sebagai topik dalm psikologi.

Teori Emosi

      Watson mengidentifikasi tiga reaksi emosional bayyi yang bersifat naluriah, yaitu reaksi yang terjadi 
secara alami. Reaksi tersebut adalah cinta, marah dan takut (Watson, 1928; Watson & Morgan, 1917). 
Watson sepakat dengan Sigmund Freud, bahwa kehidupan emosi dewasa dimulai sejak masa bayi dan 
emosi itu dapat ditransfer dari satu objek/kejadian ke objek/kejadian lainnya (Watson & Morgan, 1917). 
Watson menunjukkan teorinya dalam eksperimen dengan Albert, bayi berusia 11 bulan. Reaksi takut Albert 
dikondisikan ke tikus putih dan reaksi ini ditransfer ke kelinci putih.

Koneksionisme Edward Thorndike

      Thorndike dirujuk sebagai sebagai teori bahavioris, tetapi ia berbeda dengan pengkondisian klasik  
dalalam dua hal. Pertama, Dia tertarik dengan proses mental. Kedua, Thorndike meneliti perilaku mandiri 
atau sukarela. Thorndike memilih bereksperimen dalam kondisi terkontrol untuk mengembangkan teorinya. 
Teori Thorndike ini dikenal sebagai koneksionisme karena hewan membangun koneksi antara stimuli 
particular dengan perilaku mandiri.

      Hasil penelitian Thorndike terhadap beberapa hewan, Dia mengidentifikasi tiga hukum belajar. 
Pertama, hukum efek (laws of effects) menyatakan bahwa suatu keadaan yang memuaskan setelah respons 
akan memperkuat koneksi antara stimulus dan perilaku yang tepat, dan keadaan yang menjengkelkan akan 
melemahkan koneksi tersebut. Hukum efek penting karena dapat mengidentifikasi mekanisme baru dalam 
proses belajar. 
Kedua, hukum latihan (law of exercise) menyatakan bahwa perulangan atau repetisi dari pengalaman akan 
meningkatkan peluang respons yang benar. 
Ketiga, hukum kesiapan (law of readiness) mendeskripsikan kondisi yang mengatru keadaan yang disebut 
sebagai “memuaskan” atau “menjengkelkan”. 

Psikologi Gestalt

      Fokus awal riset Gestalt adalah pengalaman persepsi. Bersama dengan Kurt Koffka dan Wolfgang 
Kohler, Wertheimer mengembangkan hukum persepsi dan mengaplikasikan konsep ini ke belajar dan 
pemikiran. 
Riset yang dilakukan psikologi Gestalt terhadap persepsi visual menunjukkan bahwa:
a.       Ciri global dideteksi sebagai keseluruhan, bukan sebagai elemen-elemen sederhana
b.      Proses ini konstruktif karena individual sering menstransformasikan input visual yang tidak lengkap ke dalam citra perseptual yang lebih jelas.
Teori ini memantapkan studi eksperimental atas persepsi dan psikologi sosial. Teori ini juga menimbulkan 
pertanyaan baru tentang pemecahan masalah-masalah dan pemikiran.

PERBANDINGAN ANTARA BEHAVIORISME DAN GESTALT

      Kedua teori ini mengilustrasikan perkembangan pengetahuan melalui pengukuran yang akurat dan riset dalam kondisi yang terkontrol.

Aplikasi ke Pendidikan
Behaviorisme mendefinisikan belajar sebagai perubahan perilaku dan mengidentifikasi stimuli dan respons spesifik sebagai focus riset, sedangkan psikologi Gestalt berpendapat bahwa seseorang merespons stimuli yang terorganisasi dan persepsi perorangan adalah faktor penting untuk memecahkan masalah.

Behaviorisme
      Pengkondisian klasik menunjukkan bahwa penjajaran stimuli dapat menghubungkan reaksi terhadap stimuli baru. Pengkondisian klasik juga membahas aspek-aspek dari situasi sehari-hari, misalnya untuk hari pertama anak, di kelas taman kanak-kanak dan sekolah dasar, aktivitas yang dilakukan haruslah kegiatan yang dapat menghindari asosiasi kecemasan dan perasaan negative lainnya terhadap latar sekolah. 

Psikologi Gestalt
Isu yang diangkat psikologi Gestalt untuk masalah pendidikan adalah soal makna, pemahaman, dan wawasan yang merupakan karakteristik manusia. Komputer, dapat menjadi pemecah masalah manusia, setelah masalahnya dipahami.
Kesulitan dalam mengaplikasikan perspektif Gestalt di kelas adalah kurangnya prinsip yang terdefinisikan dengan jelas. Periset Gestalt mengemukakan beberapa saran untuk pembelajaran memecahkan masalah, yaitu :
1.  membuat tugas dalam belajar di dalam situasi yang konkrit dan akurat.
2. asistensi selama pemecahan masalah tidak boleh berupa prosedur pengulangan dan peniruan.

Rabu, 26 September 2012


TUGAS INDIVIDU

0
Fungsi
Contoh
Sebagai kerangka riset
Ketika saya SD kaki saya pernah menginjak kaca, hal itu terjadi karena saya tidak mendengarkan nasihat ibu saya agar memakai sandal saat keluar rumah. Dari kejadian itu saya jadi tidak berani lagi keluar rumah tanpa menggunakan alas kaki.
Memberikan kerangka organisasi untuk item-item informasi
Saya selalu membuat sticky notes dirung belajar saya,  agar saya dapat mengingat apa saja tugas, kuis, dll yang akan saya kerjakan.
Mengidentifikasi sifat dari perilaku yang kompleks
Saat saya kecil, saya sering jalan-jalan kepantai bersama orang tua saya, saya selalu bertanya kepada mereka mengapa ombak itu tidak pernah berhenti bergulung-gulung ditepi pantai, dan mengapa ombak bergulung-gulung.
Mereorganisasi pengalaman sebelumnya
Saya mengikuti seorang teman yang memakai sabun pencuci muka A, saat saya memakai sabun tersebut muka saya malah berjerawat oleh sebab itu saya merubah persepsi saya tentang sabun itu dan tidak lagi mengikuti dia untuk memakai sabun itu.
Bertindak sebagai penjelasan kerja dari peristiwa
Ketika SMA ada salah satu teman sekelas saya yang ketahuan mencuri hp dikelas lain, karena dia anggota kelas saya, otomatis kami yang satu kelas dengannya lebih mengetahui apa yang terjadi dikelas saat semua guru marah-marah didalam kelas kami. Dan otomatis semua teman dikelas lain, bertanya kepada kami.


Berdasarkan perspektif psikologis tentang faktor-faktor utama dalam belajar, saya melihat pengalaman saya sesuai dengan  teori yang dikemukakan.
·         Perspektif behavioris
 Pengkondisian klasik tentang bagaimana refleks dan reaksi emosi sederhana, hal ini  sama seperti pengalaman saya ketika kaki saya menginjak kaca, secara refleks dan reaksi emosi, saya merasa kesakitan dengan kondisi seperti itu, oleh sebab itu saya memutuskan untuk selalu memakai alas kaki setiap saya keluar rumah.
·          Perspektif kognitif
Teori kognitif merupakan teori belajar yang melibatkan proses penerimaan informasi dan problem solving. Hal ini mirip dengan pengalaman saya yang selalu menempelkan sticky notes untuk membantu saya memproses informasi yang ada baik disekolah, kampus, dll.
·         Perspektif Interaksionis
Dalam perspektif ini dikatakan kita cenderung dipengaruhi oleh model dan faktor lingkungan. Hal ini sesuai dengan pengalaman saya ketika saya mengikuti teman saya yang menggunakan sabun pencuci muka A, setelah saya mencontoh teman saya, saya menyadari bahwa sabun pencuci muka A itu tidak cocok dengan kulit saya.
·         Teori Perkembangan Interaksionis
Teori ini juga sesuai dengan pengalaman saya dimana saya selalu membuat sticky notes untuk membantu saya mengingat hal-hal kecil.

  

Minggu, 23 September 2012


Mindmap Bab I Psikologi Belajar

2

Senin, 17 September 2012


Kesimpulan Kelompok Mengenai Teori Belajar Skinner

0

Lisa Chairani (10-015)
Juannita Sari Br.Tarigan (10-019)
Christian Yosie WS (10-099)
Christin Siahaan (10-107)

           Kesimpulan yang kami peroleh setelah melakukan diskusi dan membuat tugas individu mengenai pengalaman pribadi yang kemudian dianalis menggunakan teori belajar dari skinner dimana seperti yang kita ketahui bahwa teori umum dari Skinner adalah Skinner Box, yaitu dimana seekor tikus disetrum dengan tegangan rendah, apabila tikus menyentuh dinding kotak setrum maka tegangan akan dihilangkan (dihentikan). Respon menyentuh tembok akan diperkuat (tikus makin sering menyentuh tembok) karena respon ini akan menghentikan setrum. Dalam situasi itu, setrum adalah stimulus diskriminatif , responnya adalah menyentuh tembok dan peenguatnya adalah penghentian setrum, secara spesifik, penguat negative didefenisikan sebagai stimulus pengurangan atau penghilangan yang memperkuat perilaku (Skinner, 1989, h 127; Margaret learning and instruction, h128).
          Seperti contoh pengalaman individu kelompok kami yaitu perilaku yang terjadi semua dikarenakan stimulus, dan ketika stimulus diberikan respon maka respon tersebut akan meningkat serta mengubah perilaku dengan penguat positif ataupun negatif yang diasumsikan sebagai tipe penguatan akhir, hal ini di karenakan adanya stimulus diskriminatif dalam kehidupan sehari hari.
Stimulus diskriminatif tersebut membuat kita akan merespon stimulus tersebut serta mengakibatkan kita memperoleh konsekuesi sesuai dengan respon yang kita berikan. Konsekuensi tersebut nantinya yang akan menjadi penguat perilaku kita.  Kita memperkuat atau meningkatkan frekuensi perilaku yang postif atau negatif tergantung kepada konsekuensi yang kita dapatkan dari hasil stimulus respon yang kita lakukan sebelumnya. 
          Jika dikaitkan dengan pembelajaran, hal ini terkadang bagus untuk dijadikan pendekatan bagi anak-anak, yaitu untuk menghasilkan perilaku yang kita inginkan dari anak-anak seperti rajin belajar, tidak nakal, dll kita bisa membuat stimulus diskriminatif yang bisa menghasilkan perilaku baru atau menghasilkan perilaku yang kita inginkan dari anak tersebut, seperti diberi permen jika tugasnya sudah selesai, di beri reward jika meraih juara, tidak di beri hadiah jika tidak meraih juara, dsb. mungkin hal ini akan direspon baik oleh anak, dan alahasil, respon yang diberikan oleh anak menghasilkan perilaku baru atau perilaku yang kita inginkan, kemudian konsekuensi yang diperoleh nantinya akan memberikan sebuah penguatan bagi perilaku anak tersebut. dia akan terus melakukan hal yang sama jika stimulus dan konsekuensi yang didapatkan oleh anak sama. Tapi hal ini juga akan mengalami masalah, karena anak belajar bukan karena keinginan pengetahuan mereka sendiri tapi karena ada sesuatu yang ingin mereka dapatkan ( konsekuensinya ). 

Sabtu, 15 September 2012


ANALISIS PENGALAMAN INDIVIDU

0
Pengalaman Saya

          Ketika saya kelas 1 SD, saya selalu mendapat juara 2 dikelas. Setiap bagi rapot saya selalu diberi hadiah oleh orang tua saya. Tetapi saat memasuki kelas 2 SD, saya mendapatkan peringkat pertama dikelas. Saya sangat senang, karena mendapat hadiah dari orang tua saya, dan yang membuat saya semakin senang lagi adalah ketika saya berkunjung kerumah tante saya, dia juga memberikan saya hadiah yang saya mau. Dia mengatakan bahwa itu adalah hadiah karena saya berhasil mendapatkan juara 1. Saya jadi makin senang, karena saya mendapatkan 2 hadiah sekaligus. Hadiah yang mereka berikan itu membuat saya semakin semangat belajar, karena saya merasa bahwa mendapat hadiah itu adalah hal yang sangat menyenangkan. 

Analisis Dengan Teori Belajar Skinner

      Menurut Skinner (J.W Santrock, 272) unsur yang terpenting dalam belajar adalah adanya penguatan (Reinforcement) dan hukuman (Punishment). Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Sebaliknya, hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.    

          Pengalaman yang salah alami merupakan contoh penguatan positif. Dimana perilaku saya juara kelas menimbulkan konsekuensi berupa hadiah yang diberikan oleh orang tua dan tante saya kepada saya. Hadiah yang meraka berikan tersebut membuat perilaku kedepan saya makin rajin dan semangat belajar.

Rabu, 12 September 2012


0

Pengkondisian Berpenguat Skiner

Kelompok 5:


Bayi mengocok mainan, anak lari dengan satu roda, dan ilmuan mengoprasikan siklotron-semuanya diperkuat oleh hasil (Siknner, 1968b, h.153). Risetnya mengindikasikan bahwa keluaran yang dihasilkan oleh suatu respon adalah peristiwa penting yang mengubah perilaku (Skinner, 1953).

Prinsip-prinsip Belajar
Defenisi belajar : pertama Skinner (1950) belajar sebagai perubahan perilaku. Belajar bukan melakukan tapi balajar adalah mengubah apa yang kita lakukan(Skinner, 1989a, h.15).
Kunci memahami perilaku kompleks : memahami kejadian dan proses yang menyebabkan proses respon yang diberikan. Respon-respon ini tidak secara otomatis diasosiasikan dengan stimulus tertentu. Respon itu bisa muncul dibanyak situasi berbeda. Respon yang dimunculkan diberlakukan pada lingkunagn untuk menghasilkan jenis konsekuensi yang berbeda yang mempengaruhi hewan atau manusia, untuk mengubah perilaku dimasa depan.


3 komponen pentng yang diturunkan Skinner dari paradigma Thorndike adalah :

1.      stimulus diskriminatif

2.      respon
3.      stimulus penguat
Stimulus diskriminatif adalah stimulus yang secara konsisten hadir saat suatu respon memproduksi konsekuensi yang menguatkan. Stimuli diskriminatif sering kali berupa kejadian lingkungan dan pernyataan verbal dari orang lain.





Kategori penguat :

Ada 3 pengklasifikasian penguatan umum :
1.      penguat primer dan skunder
2.      penguat umum
3.      penguatan positif atau negatif
Pertama penguat primer dan skunder. Penguat primer : penguat dalam kondisi tepat, dapat meningkatkan frekuensi perilaku tanpa pelatihan. Penguat sekunder : mendapatkan kekuatan penguatan melalui asosiasi dengan kejadian yang telah berfungsi sebagai penguat.
Kedua penguat umum : penguat yang berfungsi dalam berbagai situasi, biasanya ada 2  penguat yang digeneralisasikan 1. Penguatan sosial, 2. Manipulasi penguatan fisik.
Ketiga penguatan positif atau negatif : konsekuensi penguatan berfungsi. Istilah lain untuk penguatan negatif : pengondisian penghindaran karena perilaku mempengaruhi penghindaran dari stimuli penolakan yang diperkuat. Akan tetapi dibanyak situasi, baik itu penguatan positif maupun penguatan negatif berfungsi memperkuat perilaku.



Sifat belajar yang Kompleks

Ada 4 faktor dalam penguasaan pola perilaku :

1.      pembentukan

2.      jadwal penguatan
3.      konsep penguatan negatif
4.      perilaku yang diatur peraturan
Pembentukan : terdiri dari serangkaian stimuli diskriminatif dan penggunaan untuk perubahan respon yang halus. Penguatan dan kegunaan negatif : keuntungan dari penguatan rasio-variabel adalah mempertahankan perilaku dari pelenyapan ketika penguatan jarang.  Tapi jika penguatan menimbulkan kerusakan dinamakan kegunaan negatif, contohnya : kecanduan berjudi.  Perubahan perilaku terjadi karena diperkuat pada masa lalu. Perilaku seperti itu disebut perilaku yang diatur peraturan, tapi berbeda dengan perilaku yang diatur kemungkinan. 
Prinsip Pembelajaran
Sistem pendidikan adalah sangat penting karena kesejahteraan setiap budaya tergantung pada pendidikan. Skinner berpendapat bahwa sekolah merupakan salah satu perubahan untuk melakukan penyesuaian kecil terhadap situasi yang ada. Skinner juga membagi beberapa aspek penting dari pembelajaran yaitu transfer kontrol stimulus dimana guru menunjukkan contoh perilaku dan siswa menirukannya. Dalam perencanaan pembelajaran untuk membentuk perilaku langkah pertama yaitu menspesifikasikan dengan jelas perilaku yang hendak dipelajari kemudian mengidentifikasi keterampilan awal dari pemelajar. Dengan demikian diharapkan dapat memberikan serangkaian penguatan untuk perilaku agar makin baik. Skinner juga mengukapkan bahwa mesin pengajaran awal harus memberikan penguatan untuk konsekuensi langsung, Skinner menganggap komputer sebagai mesin pengajaran yang paling ideal tetapi skinner juga memperingatkan bahwa program komputer dapat merugikan siswa karena malah dapat mengalihkan perhatian siswa dari belajar.