Rabu, 26 September 2012


TUGAS INDIVIDU

0
Fungsi
Contoh
Sebagai kerangka riset
Ketika saya SD kaki saya pernah menginjak kaca, hal itu terjadi karena saya tidak mendengarkan nasihat ibu saya agar memakai sandal saat keluar rumah. Dari kejadian itu saya jadi tidak berani lagi keluar rumah tanpa menggunakan alas kaki.
Memberikan kerangka organisasi untuk item-item informasi
Saya selalu membuat sticky notes dirung belajar saya,  agar saya dapat mengingat apa saja tugas, kuis, dll yang akan saya kerjakan.
Mengidentifikasi sifat dari perilaku yang kompleks
Saat saya kecil, saya sering jalan-jalan kepantai bersama orang tua saya, saya selalu bertanya kepada mereka mengapa ombak itu tidak pernah berhenti bergulung-gulung ditepi pantai, dan mengapa ombak bergulung-gulung.
Mereorganisasi pengalaman sebelumnya
Saya mengikuti seorang teman yang memakai sabun pencuci muka A, saat saya memakai sabun tersebut muka saya malah berjerawat oleh sebab itu saya merubah persepsi saya tentang sabun itu dan tidak lagi mengikuti dia untuk memakai sabun itu.
Bertindak sebagai penjelasan kerja dari peristiwa
Ketika SMA ada salah satu teman sekelas saya yang ketahuan mencuri hp dikelas lain, karena dia anggota kelas saya, otomatis kami yang satu kelas dengannya lebih mengetahui apa yang terjadi dikelas saat semua guru marah-marah didalam kelas kami. Dan otomatis semua teman dikelas lain, bertanya kepada kami.


Berdasarkan perspektif psikologis tentang faktor-faktor utama dalam belajar, saya melihat pengalaman saya sesuai dengan  teori yang dikemukakan.
·         Perspektif behavioris
 Pengkondisian klasik tentang bagaimana refleks dan reaksi emosi sederhana, hal ini  sama seperti pengalaman saya ketika kaki saya menginjak kaca, secara refleks dan reaksi emosi, saya merasa kesakitan dengan kondisi seperti itu, oleh sebab itu saya memutuskan untuk selalu memakai alas kaki setiap saya keluar rumah.
·          Perspektif kognitif
Teori kognitif merupakan teori belajar yang melibatkan proses penerimaan informasi dan problem solving. Hal ini mirip dengan pengalaman saya yang selalu menempelkan sticky notes untuk membantu saya memproses informasi yang ada baik disekolah, kampus, dll.
·         Perspektif Interaksionis
Dalam perspektif ini dikatakan kita cenderung dipengaruhi oleh model dan faktor lingkungan. Hal ini sesuai dengan pengalaman saya ketika saya mengikuti teman saya yang menggunakan sabun pencuci muka A, setelah saya mencontoh teman saya, saya menyadari bahwa sabun pencuci muka A itu tidak cocok dengan kulit saya.
·         Teori Perkembangan Interaksionis
Teori ini juga sesuai dengan pengalaman saya dimana saya selalu membuat sticky notes untuk membantu saya mengingat hal-hal kecil.

  

Minggu, 23 September 2012


Mindmap Bab I Psikologi Belajar

2

Senin, 17 September 2012


Kesimpulan Kelompok Mengenai Teori Belajar Skinner

0

Lisa Chairani (10-015)
Juannita Sari Br.Tarigan (10-019)
Christian Yosie WS (10-099)
Christin Siahaan (10-107)

           Kesimpulan yang kami peroleh setelah melakukan diskusi dan membuat tugas individu mengenai pengalaman pribadi yang kemudian dianalis menggunakan teori belajar dari skinner dimana seperti yang kita ketahui bahwa teori umum dari Skinner adalah Skinner Box, yaitu dimana seekor tikus disetrum dengan tegangan rendah, apabila tikus menyentuh dinding kotak setrum maka tegangan akan dihilangkan (dihentikan). Respon menyentuh tembok akan diperkuat (tikus makin sering menyentuh tembok) karena respon ini akan menghentikan setrum. Dalam situasi itu, setrum adalah stimulus diskriminatif , responnya adalah menyentuh tembok dan peenguatnya adalah penghentian setrum, secara spesifik, penguat negative didefenisikan sebagai stimulus pengurangan atau penghilangan yang memperkuat perilaku (Skinner, 1989, h 127; Margaret learning and instruction, h128).
          Seperti contoh pengalaman individu kelompok kami yaitu perilaku yang terjadi semua dikarenakan stimulus, dan ketika stimulus diberikan respon maka respon tersebut akan meningkat serta mengubah perilaku dengan penguat positif ataupun negatif yang diasumsikan sebagai tipe penguatan akhir, hal ini di karenakan adanya stimulus diskriminatif dalam kehidupan sehari hari.
Stimulus diskriminatif tersebut membuat kita akan merespon stimulus tersebut serta mengakibatkan kita memperoleh konsekuesi sesuai dengan respon yang kita berikan. Konsekuensi tersebut nantinya yang akan menjadi penguat perilaku kita.  Kita memperkuat atau meningkatkan frekuensi perilaku yang postif atau negatif tergantung kepada konsekuensi yang kita dapatkan dari hasil stimulus respon yang kita lakukan sebelumnya. 
          Jika dikaitkan dengan pembelajaran, hal ini terkadang bagus untuk dijadikan pendekatan bagi anak-anak, yaitu untuk menghasilkan perilaku yang kita inginkan dari anak-anak seperti rajin belajar, tidak nakal, dll kita bisa membuat stimulus diskriminatif yang bisa menghasilkan perilaku baru atau menghasilkan perilaku yang kita inginkan dari anak tersebut, seperti diberi permen jika tugasnya sudah selesai, di beri reward jika meraih juara, tidak di beri hadiah jika tidak meraih juara, dsb. mungkin hal ini akan direspon baik oleh anak, dan alahasil, respon yang diberikan oleh anak menghasilkan perilaku baru atau perilaku yang kita inginkan, kemudian konsekuensi yang diperoleh nantinya akan memberikan sebuah penguatan bagi perilaku anak tersebut. dia akan terus melakukan hal yang sama jika stimulus dan konsekuensi yang didapatkan oleh anak sama. Tapi hal ini juga akan mengalami masalah, karena anak belajar bukan karena keinginan pengetahuan mereka sendiri tapi karena ada sesuatu yang ingin mereka dapatkan ( konsekuensinya ). 

Sabtu, 15 September 2012


ANALISIS PENGALAMAN INDIVIDU

0
Pengalaman Saya

          Ketika saya kelas 1 SD, saya selalu mendapat juara 2 dikelas. Setiap bagi rapot saya selalu diberi hadiah oleh orang tua saya. Tetapi saat memasuki kelas 2 SD, saya mendapatkan peringkat pertama dikelas. Saya sangat senang, karena mendapat hadiah dari orang tua saya, dan yang membuat saya semakin senang lagi adalah ketika saya berkunjung kerumah tante saya, dia juga memberikan saya hadiah yang saya mau. Dia mengatakan bahwa itu adalah hadiah karena saya berhasil mendapatkan juara 1. Saya jadi makin senang, karena saya mendapatkan 2 hadiah sekaligus. Hadiah yang mereka berikan itu membuat saya semakin semangat belajar, karena saya merasa bahwa mendapat hadiah itu adalah hal yang sangat menyenangkan. 

Analisis Dengan Teori Belajar Skinner

      Menurut Skinner (J.W Santrock, 272) unsur yang terpenting dalam belajar adalah adanya penguatan (Reinforcement) dan hukuman (Punishment). Penguatan (reinforcement) adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas bahwa suatu perilaku akan terjadi. Sebaliknya, hukuman (punishment) adalah konsekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku.    

          Pengalaman yang salah alami merupakan contoh penguatan positif. Dimana perilaku saya juara kelas menimbulkan konsekuensi berupa hadiah yang diberikan oleh orang tua dan tante saya kepada saya. Hadiah yang meraka berikan tersebut membuat perilaku kedepan saya makin rajin dan semangat belajar.

Rabu, 12 September 2012


0

Pengkondisian Berpenguat Skiner

Kelompok 5:


Bayi mengocok mainan, anak lari dengan satu roda, dan ilmuan mengoprasikan siklotron-semuanya diperkuat oleh hasil (Siknner, 1968b, h.153). Risetnya mengindikasikan bahwa keluaran yang dihasilkan oleh suatu respon adalah peristiwa penting yang mengubah perilaku (Skinner, 1953).

Prinsip-prinsip Belajar
Defenisi belajar : pertama Skinner (1950) belajar sebagai perubahan perilaku. Belajar bukan melakukan tapi balajar adalah mengubah apa yang kita lakukan(Skinner, 1989a, h.15).
Kunci memahami perilaku kompleks : memahami kejadian dan proses yang menyebabkan proses respon yang diberikan. Respon-respon ini tidak secara otomatis diasosiasikan dengan stimulus tertentu. Respon itu bisa muncul dibanyak situasi berbeda. Respon yang dimunculkan diberlakukan pada lingkunagn untuk menghasilkan jenis konsekuensi yang berbeda yang mempengaruhi hewan atau manusia, untuk mengubah perilaku dimasa depan.


3 komponen pentng yang diturunkan Skinner dari paradigma Thorndike adalah :

1.      stimulus diskriminatif

2.      respon
3.      stimulus penguat
Stimulus diskriminatif adalah stimulus yang secara konsisten hadir saat suatu respon memproduksi konsekuensi yang menguatkan. Stimuli diskriminatif sering kali berupa kejadian lingkungan dan pernyataan verbal dari orang lain.





Kategori penguat :

Ada 3 pengklasifikasian penguatan umum :
1.      penguat primer dan skunder
2.      penguat umum
3.      penguatan positif atau negatif
Pertama penguat primer dan skunder. Penguat primer : penguat dalam kondisi tepat, dapat meningkatkan frekuensi perilaku tanpa pelatihan. Penguat sekunder : mendapatkan kekuatan penguatan melalui asosiasi dengan kejadian yang telah berfungsi sebagai penguat.
Kedua penguat umum : penguat yang berfungsi dalam berbagai situasi, biasanya ada 2  penguat yang digeneralisasikan 1. Penguatan sosial, 2. Manipulasi penguatan fisik.
Ketiga penguatan positif atau negatif : konsekuensi penguatan berfungsi. Istilah lain untuk penguatan negatif : pengondisian penghindaran karena perilaku mempengaruhi penghindaran dari stimuli penolakan yang diperkuat. Akan tetapi dibanyak situasi, baik itu penguatan positif maupun penguatan negatif berfungsi memperkuat perilaku.



Sifat belajar yang Kompleks

Ada 4 faktor dalam penguasaan pola perilaku :

1.      pembentukan

2.      jadwal penguatan
3.      konsep penguatan negatif
4.      perilaku yang diatur peraturan
Pembentukan : terdiri dari serangkaian stimuli diskriminatif dan penggunaan untuk perubahan respon yang halus. Penguatan dan kegunaan negatif : keuntungan dari penguatan rasio-variabel adalah mempertahankan perilaku dari pelenyapan ketika penguatan jarang.  Tapi jika penguatan menimbulkan kerusakan dinamakan kegunaan negatif, contohnya : kecanduan berjudi.  Perubahan perilaku terjadi karena diperkuat pada masa lalu. Perilaku seperti itu disebut perilaku yang diatur peraturan, tapi berbeda dengan perilaku yang diatur kemungkinan. 
Prinsip Pembelajaran
Sistem pendidikan adalah sangat penting karena kesejahteraan setiap budaya tergantung pada pendidikan. Skinner berpendapat bahwa sekolah merupakan salah satu perubahan untuk melakukan penyesuaian kecil terhadap situasi yang ada. Skinner juga membagi beberapa aspek penting dari pembelajaran yaitu transfer kontrol stimulus dimana guru menunjukkan contoh perilaku dan siswa menirukannya. Dalam perencanaan pembelajaran untuk membentuk perilaku langkah pertama yaitu menspesifikasikan dengan jelas perilaku yang hendak dipelajari kemudian mengidentifikasi keterampilan awal dari pemelajar. Dengan demikian diharapkan dapat memberikan serangkaian penguatan untuk perilaku agar makin baik. Skinner juga mengukapkan bahwa mesin pengajaran awal harus memberikan penguatan untuk konsekuensi langsung, Skinner menganggap komputer sebagai mesin pengajaran yang paling ideal tetapi skinner juga memperingatkan bahwa program komputer dapat merugikan siswa karena malah dapat mengalihkan perhatian siswa dari belajar.

Jumat, 27 Mei 2011


Bagaimana menciptakan suasana belajar yang menyenangkan???

0







         Belajar kadang kala adalah hal yang sangat membosankan bagi para pelajar. 
Banyak hal yang membuat belajar itu terasa sangat membosankan.
Saya juga sering mengalami hal demikian.
Terkadang ada rasa malas yang sangat besar ketika akan pergi kekampus, dan saat mengikuti pelajaran, saya sering kali merasa ngantuk, bosan, capek, dll dan yang muncul adalah doa agar pelajaran yang saya bosan itu cepat berakhir.


Mengapa kita bisa merasakan bosan saat belajar...
Coba kita tanya pada diri kita, apa yang memuat kita merasa bosan..
Saya juga pernah bosan, sering malah. Apalagi kalau gurunya bukanlah favorit saya dan cara mengajarnya mebosankan, maka saya akan lebih memilih melihat-lihat keluar kelas atau pun bersms ria dengan teman-teman saya saat guru menerangkan (sangat tidak terpuji, tapi itu lah kenyataannya). 
Hahaha …


Tapi  disini saya akan memberi sedikit sosuli dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.


Pertama, analisis dulu mengapa anda bosan. 
Apakah karena gurunya?? 
Atau karena pelajarannya seperti tidak menarik?? 
Atau karena anda sudah mencoba mengikuti dengan baik tetapi tidak bisa juga??


Kedua, setelah kita mengetahui apa penyebabnya coba kita mengambil sedikit sisi positif dari pelajaran tersebut sehingga membuat kita tergerak atau terdorong untuk mempelajarinya.
Misalnya: saat saya di SMA dulu, saya sangat tidak meyukai pelajaran biologi. Karna banyak faktor, guru yang galak, pelajarannya yang sulit, kata-katanya yang aneh dan sulit dihapalkan. Tapi saya selalu berpikir "Saya harus belajar ini, agar saya bisa jadi dokter" (padahal saya tidak niat jadi dokter), tapi saya mengatakannya dalam hati saya agar muncul sedikit rasa menyenangkan terhadap pelajaran tersebut.


Ketiga, mungkin ini agak sedikit sulit, terkadang seorang pelajar sangat tidak nyaman menghadapi pengajar yang agak sedikit galak dan menakutkan. Tapi ini memang hal yang sangat sulit, karena disetiap sekolah pasti ada saja pengajar yang dianggap galak oleh pelajar Untuk mengatasi hal ini coba bayangkan bahwa pengajar yang menurut banyak pelajar galak itu adalah sosok pengajar yang sangat lembut dan penuh perhatian. ^_^


Keempat, cari teman yang dapat membuat kamu nyaman dan dapat bertukar pikiran. Agar saat kamu merasa belajarnya sangat tidak menyenangkan kamu dapat bertanya ataupun belajar dengan teman mu tersebut.


Kelima, munculkan lah motivasi instrinsik dalam dirimu bahwa belajar itu adalah cara untuk dapat menggapai cita-cita dan masa depan yang indah....
(walaupun saya juga agak sulit melakukan ini)..


Semoga ini bermanfaat bagi pembaca dan juga penulis (yang sebenarnya sangat malas belajar)...
Terlihat memalukan sih, tapi itu lah kenyataannya..

Bukan kah kejujuran itu baik??
Hehehehe..  ^_^


Senin, 16 Mei 2011


0
Tema : Peran Teknologi sebagai Media Pembelajaran pada Mahasiswa
Judul :



PEMANFAATAN TEKNOLOGI IN-FOCUS PADA KEGIATAN PERKULIAHAN DI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA




A.    PENDAHULUAN
Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang terus bahkan berlangsung dengan cepat. Pengaruh perkembangan teknologi dan informasi meluas ke berbagai bidang kehidupan, termasuk bidang pendidikan. Teknologi mulai  diterapkan dalam pendidikan karena adanya pandangan, bahwa science diyakini dapat meningkatkan kualitas hidup manusia. Berbagai macam produk teknologi yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran seperti in-focus, laptop, video, televisi, dan sebagainya menunjukkan bahwa kehadiran produk teknologi informasi dan komunikasi merupakan suatu keniscayaan dalam pendidikan, khususnya dalam pembelajaran di masa sekarang dan masa yang akan datang.
Berdasarkan paparan di atas, kami ingin mengetahui tentang peranan salah satu teknologi yang sekarang mulai digunakan dalam kegiatan perkuliahan, yaitu in focus. Oleh karena itu, kami mengambil judul PEMANFAATAN TEKNOLOGI IN-FOCUS PADA KEGIATAN PERKULIAHAN DI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA. Judul ini berhubungan dengan topik yang diberikan yaitu Peran Teknologi sebagai Media Pembelajaran pada Mahasiswa. Tugas ini bertujuan untuk memenuhi Tugas Mini Proyek mata kuliah Psikoloogi Pendidikan dibawah bimbingan Ibu Filia Dina Anggaraeni.
Alasan kami memilih judul tersebut dikarenakan belum optimalnya penggunaan teknologi di zaman yang sudah sangat maju. Hal ini berdasarkan pengamatan kami pada berbagai kegiatan perkuliahan yang belum mengoptimalkan penggunaan in focus di lingkungan Universitas Sumatera Utara. Memang, ada beberapa kegiatan perkuliahan yang didominasi dengan penggunaan in focus, namun ada juga yang belum menggunakannya. Kami mengaitkan fenomena tersebut dengan teori Psikologi Pendidikan yaitu Sumber Belajar Dalam Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Sumber belajar dipilih berdasarkan kompettensi, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi dasar. Sumber-sumber belajar sebaiknya bervariasi agar memberikan pengalaman yang luas kepada mahasiswa. Penggunaan sumber belajar yang tepat akan menunjang keefektifan proses pembelajaran.

B.     LANDASAN TEORI

Teknologi pendidikan merupakan pengembangan, penerapan, dan penilaian sistem-sistem, teknik-teknik, dan alat-alat baru untuk memperbaiki prosespembelajaran. Teknologi pendidikan adalah penerapan pengetahuan ilmiah tentang belajar dan kondisi belajar untuk memperbaiki efektivitas dan efisiensi pengajaran dan pelatihan.kurikulum dan teknologi pendidikan saling melengkapi. Teknologi pendidikan memiliki peran yang besar pada pengembangan kurikulum karena dalam merancang, menyusun, dan mengembangkan kurikulum menjadi sumber yang menentukan strategi pembelajaran dengan menempatkan pengajar tidak hanya sebagai pelaksana, namun sebagai perekayasa dalam proses pembelajaran. Kurikulum disusun dengan mempertimbangkan sumber  belajar dan media pembelajaran yang dibutuhkan dan sudah tersedia, sehingga memungkinkan mahasiswa memperoleh pengalaman belajar secara nyata, bermakna, luas, dan mendalam.
Sumber belajar adalah bahan-bahan yang dapat dimanfaatkan dan diperlukan untuk membantu dosen dan mahasiswa dalam proses pembelajaran. Sumber belajar dapat berupa buku teks, media cetak, media elektronik, narasumber, lingkungan alam sekitar, dan sebagainya yang dapat meningkatkan kadar keaktifan dalam proses pembelajaran. Sumber  belajar dipilih berdasarkan kompetensi, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi dasar. Sumber-sumber belajar sebaiknya bervariasi agar memberikan pengalaman yang luas kepada mahasiswa. Penggunaan sumber belajar yang tepat akan menunjang keefektifan proses pembelajaran.
Sumber belajar berfungsi untuk:
1.      Pengembangan bahan ajar secara ilmiah dan objektif.
2.      Mendukung terlaksananya program pembelajaran yang sistematis.
3.      Membantu pengajar dalam mengefisienkan waktu pembelajaran dan menghasilkan pembelajaran yang efektif.
4.      Meringankan tugas pengajar dalam menyajikan informasi atau materi pembelajaran, sehingga pengajar dapat lebih banyak memberikan dorongan dan motivasi belajar kepada peserta didik.
5.      Meningkatkan keberhasilan pembelajaran karena peserta didik dapat belajar lebih cepat dan menunjang penguasaan materi pembelajaran.
6.      Mempermudah peserta didik untuk mendapatkan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik sehingga peran pengajar tidak dominan dan menciptakan kondisi atau lingkungan belajar yang memungkinkan peserta didik belajar.
7.      Peserta didik belajar sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, bakat, dan minatnya.
8.      Memberikan informasi atau pengetahuan yang lebih luas tidak terbatas ruang, waktu, dan keterbatasan indera.
Berbagai sumber belajar dapat digunakan baik oleh pengajar maupun peserta didik dalam pembelajaran, termasuk di dalamnya pembelajaran berbasis TIK, antara lain:
1.      Buku Kurikulum. Buku kurikulum sangat penting sebagai pedoman untuk menentukan standar kompetensi, kompetensi dasar, dan materi pembelajaran. Pengajar harus menjabarkan materi pokok menjadi bahan ajar yang terperinci.
2.      Buku Teks. Buku teks digunakan sebagai sumber bahan belajar. Buku teks tidak selamanya harus satu jenis atau dari satu orang pengarang saja,melainkan hendaknya bervariasi agar mendapatkan materi pembelajaran yang luas.
3.      Sumber belajar media elektronik hasil rekayasa teknologi. Sumber belajar berupa media elektronik hasil rekayasa teknologi.  Media elektronik adalah komputer (seperti internet), televisi, VCD/DVD, radio, kaset, dan sebagainya. Media elektronik ini yang dimanfaatkan adalah program-programnya yang berkaitan dengan bahan belajar suatu mata pembelajaran.
4.      Internet. Internet dengan jaringan kerjanya (network) merupakan sumber untuk mendapatkan segala macam bahan ajar. Bahan ajar tersebut bisa dicetak atau dicopy.
5.      Penerbitan Berkala. Penerbitan berkala seperti surat kabar harian atau majalah yang terbit mingguan atau bulanan. Penerbitan ini bnayak berisikan informasi yang berkenaan dengan bahan ajar. Penyajiaannya menggunakan bahasa yang populer yang mudah dipahami, karena itu sangat baik jika dijadikan sebagai bahan ajar.
6.      Laporan Hasil Penelitian. Laporan hasil penelitian biasanya diterbitkan oleh lembaga penelitian, perguruan tinggi, atau para peneliti. Laporan hasil penelitian ini bisa dijadikan bahan belajar yang aktual dan mutakhir.
7.      Jurnal. Jurnal adalah penerbitan hasil penelitian dan pemikiran ilmiah. Isinya hasil penelitian atau hasil pemikiran yang sangat bermanfaat untuk digunakan sebagai sumber bahan belajar. Hasil penelitian ini kebenarannya telah dikaji dan diuji.
8.      Narasumber. Narasumber adalah orang-orang yang mempunyai keahlian pada suatu bidang. Pemanfaatan narasumber bisa dihadirkan di kelas atau dikunjungi ke tempat kerja profesional tersebut.
9.      Lingkungan. Lingkungan ini seperti lingkungan alam, ekonomi, sosial, seni, budaya, teknologi, atau industri. Lingkungan dapat menjadi sumber belajar pada mata pelajaran terkait dengan penjelasan topik tertentu yang memerlukan pemanfaatan lingkungan. Misalnya, mempelajari materi pembelajaran tentang pertanian, maka peserta didik dibawa ke lingkungan sekitar persawahan. Untuk mempelajari tentang perdagangan, peserta didik dibawa ke pasar atau ke toko.
Pengklasifikasian sumber belajar, termasuk di dalamnya sumber belajar pada pembelajaran berbasis TIK, yang lain yaitu terbagi menjadi enam aspek, yaitu:
1.      Pesan (Message).
Pesan biasanya berupa perangkat lunak (software) seperti fakta, data/ide, atau informasi. Perangkat lunak ini disampaikan oleh pengajar kepada peserta didik yang akan menerimanya. Perangkat lunak ini bisa disajikan melalui hardware. Sumber belajar itu untuk menjawab pertanyaan apa yang disampaikan, yaitu pesan. Proses pembelajaran yang melibatkan sumber belajar memungkinkan peserta didik untuk berinteraksi langsung menerima informasi yang berupa pesan tersebut.
2.      Manusia (People).
Manusia yaitu sumber belajar berupa orang yang menyampaikan pesan. Misalnya pengajar yang menyampaikan pesan belajar berupa materi pembelajaran kepada peserta didik. Sumber belajar itu diperlukan untuk menjawab pertanyaan siapa yang menyampaikan pesan itu, yaitu orang. Dengan demikian, proses pembelajaran yang melibatkan sumber belajar memungkinkan peserta didik untuk berkomunikasi langsung dengan orang yang menjadi narasumbernya.
3.      Teknik (Technique).
Teknik yaitu kegiatan atau aktivitas menyampaikan pesan belajar. Misalnya, peserta didik mempelajari cara mengoperasikan komputer dengan teknik belajar mandiri. Sumber belajar itu untuk  pertanyaan dengan cara bagaimana pesan itu disampaikan yaitu teknik. Proses pembelajaran yang melibatkan sumber belajar memungkinkan peserta didik untuk berinteraksi langsung menerima informasi melalui teknik tertentu.
4.      Bahan (Materials)
Bahan yang dimaksud disini adalah bahan-bahan  yang mangandung pesan belajar yang dapat dipelajari. Ini meliputi bahan tercetak seperti buku, majalah, surat kabar, dan sebagainya, serta bahan-bahan yang tidak tercetak, yaitu bahan elektronik seperti televisi, radio, atau komputer. Sumber belajar itu untuk menjawab pertanyaan dengan apa pesan itu disampaikan, yaitu bahan. Proses pembelajaran yang melibatkan sumber belajar memungkinkan peserta didik untuk berinteraksi langsung menerima informasi melalui bahan.
5.      Alat/Perlengkapan (Tool/Equipment)
Alat/Perlengkapan (Tool/Equipment) atau perangkat keras (hardware) sebagai media untuk menyajikan perangkat lunak (software). In-focus, untuk menampilan materi atau program yang terdapat pada video, televisi, komputer, dan sebagainya. Sumber belajar itu untuk menjawab pertanyaan dengan apa pesan itu disampaikan, yaitu alat. Proses pembelajaan yang melibatkan sumber belajar memungkinkan peserta didik untuk berinteraksi langsung menerima informasi menggunakan berbagai alat yang menunjang.
6.      Lingkungan (Setting)  
Lingkungan yang dimaksud disina adalah tempat dan situasi disampaikannya pesan belajar. Tempat yang dimaksud adalah ruang kelas, ruang laboratorium, ruang perpustakaan, dan sebagainya. Sedangkan situasi menunjukkan lingkungan bukan fisik, seperti cuaca, iklim, udara, dan sebagainya. Sumber belajar itu untuk menjawab pertanyaan dimana pesan disampaikan, yaitu dilingkungan. Proses pembelajaran yang melibatkan sumber belajar memungkinkan peserta didik untuk berinteraksi langsung ditempat atau lingkungan belajar.
7.      Alat/Perlengkapan (Tool/Equipment)
Alat/Perlengkapan (Tool/Equipment) atau yang biasa disebut perangkat keras (hardware). Alat ini untuk menyajikan sumber belajar dalam bentukperangkat lunak (software). Misalnya Overhead Projector (OHP) untuk menampilkan program yang terdapat pada transparansi, televisi, komputer, dan sebagainya.
            Berdasarkan landasan teori di atas muncul suatu permasalahan apakah in-focus memang sudah efektif diterapkan dilingkungan perkuliahan. Mengingat bahwa sumber belajar dapat dimanfaatkan dan digunakan untuk membantu pengajar maupun peserta didik dalam proses pembelajaran. Penggunaan sumber belajar yang tepat juga menunjang keefektifan proses pembelajaran.

C.    ALAT DAN BAHAN

-   Kamera
-          Alat Tulis
-          Angket
-          Reward berupa Permen

D.    ANALISIS DATA

            Kami menggunakan teknik pengumpulan data dalam bentuk angket. Angket berisi 8 pertanyaan mengenai tanggapan responden tentang penggunaan in-focus dalam perkuliahan mereka dan seefektif apakah peranan in-focus tersebut. Kami memilih 60 responden secara acak dari beberapa fakultas di Universitas Sumatera Utara. Dengan menggunakan angket ini kami berharap dapat mengetahui bagaimana sebenarnya peran in-focus dalam membantu proses perkuliahan di beberapa fakultas di Universitas Sumatera Utara. Karena seperti yang kita ketahui tidak semua fakultas harus menggunakan in-focus dalam proses perkuliahan. Oleh karena itu, kami ingin mengetahui bagaimana sebenarnya peran in-focus bagi responden.
            Kami memilih sampel secara acak di beberapa fakultas di Universitas Sumatera Utara untuk tugas proyek mata kuliah Psikologi Pendidikan.

JADWAL PELAKSANAAN

No
Jadwal Kegiatan
Mei
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
16
17
18
1.
Mengganti topik awal menjadi Peran teknologi sebagai media belajar pada mahasiswa
-
-
X

-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
2.
Menyusun perencanaan proyek
-
-
-
-
X
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
3.
Membeli Reward untuk responden
-
-
-
-
-
X
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
4.
Merampungkan tugas perencanaan
-
-
-
-
-
-
-
X
-
-
-
-
-
-
-
-
-
5.
Evaluasi dan bimbingan dengan Dosen Pengampu
-
-
-
-
-
-
-
-
X
-
-
-
-
-
-
-
-
6.
Menyebarkan angket
-
-
-
-
-
-
-
-
-
X
X
X
-
-
-
-
-
7.
Membuat rancangan Pelaporan dan Evaluasi
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
X
-
-
-
-
8.
Mendesaign Poster
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
X
X
-
-
-
9.
Posting Blog
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
X
X

KALKULASI BIAYA

No
Rincian Pengeluaran
Biaya yang dikeluarkan
1
2
3
Pembelian Reward untuk responden
Print Out Angket
Fotocopy angket
Rp 15.000
Rp 2.000
Rp 12.000

E.     PELAPORAN DAN EVALUASI

a.      Analisis Data
1.      Peranan dan pemanfaatan teknologi pada kegiatan perkuliahan di kampus subjek.
Data yang kami peroleh berdasarkan angket disimpulkan bahwa teknologi sangat berperan dan bermanfaat dalam mendukung kegiatan perkuliahan.
2.      Apakah kegiatan perkuliahan di kampus subjek menggunakan in-focus.
Data yang kami peroleh berdasarkan angket disimpulkan bahwa sebagian besar kegiatan perkuliahan di Universitas Sumatera Utara telah menggunakan in-focus.
3.      Jika ya, apakah in-focus selalu digunakan pada  setiap kegiatan perkuliahan. Jika tidak, apakah menurut subjek terdapat perbedaan antara perkuliahan yang difasilitasi in-focus dengan yang tidak difasilitasi in-focus sama sekali.
Menurut data yang kami peroleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara mengatakan hanya 50 % menggunakan in focus dan 50 % lagi menggunakan metode ceramah, karena tidak semua jurusan itu menggunakan atau memerlukan in focus dalam proses perkuliahan, seperti Fakultas MIPA maupun Teknik yang kebanyakan mata kuliahnya berbentuk hitungan, sehingga tidak memungkinkan penggunaan in focus dalam kegiatan perkuliahan.
4.      Teknologi yang sudah dimanfaatkan dalam mendukung kegiatan perkuliahan di kampus subjek.
-          In-focus
-          Wifi
-          Microphone
-          Speaker
5.      Kelebihan in-focus dalam kegiatan perkuliahan menurut subjek.
Dari data yang diperoleh :
-          Mengikuti perkuliahan dengan lebih menarik, tidak membosankan. Ini dikarenakan materi disertai dengan gambar dan video
-          Lebih mudah memahami karena tersaji dalam point yang lebih ringkas (rinci)
6.      Kekurangan in-focus dalam kegiatan perkuliahan menurut subjek.
Menurut data yang diperoleh :
-          Dosen terkesan monoton, karena hanya terpaku pada slide yang tersaji
-          Mahasiswa menjadi lebih pasif
-          Kewalahan bila listrik padam (penggunaan 100%  in-focus pada setiap perkuliahan)
7.      Apakah in-focus sangat penting sehingga harus disediakan dalam setiap kegiatan perkuliahan.
Sebagian besar dari subjek mengatakan bahwa in focus itu sangat penting, tapi tergantung materi apa yang sedang disampaikan. Mereka merasa in focus kurang cocok jika digunakan untuk materi yang berhubungan dengan hitungan. Dan lebh cocok digunakan untuk materi yang lebih banyak materi.
8.      Harapan subjek untuk keefektifan kegiatan perkuliahan sehubungan dengan perkembangan teknologi saat ini.
Dari data yang diperoleh, kebanyakan subjek berharap bahwa fasilitas teknologi seperti wifi, in focus, lebih ditingkatkan. Karena ada sebagian responden kami yang mengatakan, mereka sedikit kesulitan untuk mencari tugas atau bahan kuliah karena terbatasnya jaringan internet (wifi), dan sebagian kesulitan untuk mengikuti perkuliahan karena terbatasnya fasilitas in focus di beberapa kampus. Sehingga apabila pengeras suara tidak ada, ditambah lagi in focus tidak ada, maka materi yang disampaikan dosen tidak akan dapat dicerna dengan sempurna.

b.      Kesimpulan
-       Teknologi sangat berperan dan bermanfaat dalam mendukung kegiatan perkuliahan.
-       Sebagian besar kegiatan perkuliahan di Universitas Sumatera Utara telah menggunakan in-focus.
-    Menurut data yang kami peroleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara mengatakan hanya 50 % menggunakan in focus dan 50 % lagi menggunakan metode ceramah, karena tidak semua jurusan itu menggunakan atau memerlukan in focus dalam proses perkuliahan, seperti Fakultas MIPA maupun Teknik yang kebanyakan mata kuliahnya berbentuk hitungan, sehingga tidak memungkinkan penggunaan in focus dalam kegiatan perkuliahan.
-     Teknologi yang sudah dimanfaatkan dalam kegiatan perkuliahan adalah : In-focus, Wifi, Microphone, Speaker
-       Kelebihan penggunaan in-focus menurut data yang kami peroleh adalah :
  * Mengikuti perkuliahan dengan lebih menarik, tidak membosankan. Ini dikarenakan    materi disertai dengan gambar dan video
    *  Lebih mudah memahami karena tersaji dalam point yang lebih ringkas (rinci)
-            Kekurangan penggunaan in-focus menurut data yang kami peroleh adalah :
    *         Dosen terkesan monoton, karena hanya terpaku pada slide yang tersaji
    *         Mahasiswa menjadi lebih pasif
    *      Kewalahan bila listrik padam (penggunaan 100%  in-focus pada setiap perkuliahan)
-  Sebagian besar dari subjek mengatakan bahwa in focus itu sangat penting, tapi tergantung materi apa yang sedang disampaikan. Mereka merasa in focus kurang cocok jika digunakan untuk materi yang berhubungan dengan hitungan. Dan lebh cocok digunakan untuk materi yang lebih banyak materi.
- Harapan subjek untuk keefektifan kegiatan perkuliahan sehubungan dengan perkembangan teknologi saat ini.
Dari data yang diperoleh, kebanyakan subjek berharap bahwa fasilitas teknologi seperti wifi, in focus, lebih ditingkatkan. Karena ada sebagian responden kami yang mengatakan, mereka sedikit kesulitan untuk mencari tugas atau bahan kuliah karena terbatasnya jaringan internet (wifi), dan sebagian kesulitan untuk mengikuti perkuliahan karena terbatasnya fasilitas in focus di beberapa kampus. Sehingga apabila pengeras suara tidak ada, ditambah lagi in focus tidak ada, maka materi yang disampaikan dosen tidak akan dapat dicerna dengan sempurna.

c.       Testimoni Anggota Kelompok
Kelompok :
-          Sri Rizki Amanda   (10-017)
-          Maria Siagian        (10-049)
-          Christian YWS       (10-099)

      Menurut kelompok kami banyak sekali kesulitan yang kita temui ketika membuat  tugas mini  proyek. Mulai dari perbedaan pendapat, sampai berselisih paham ketika milih topik. dan mendapat hambatan hingga mengganti topik. Terus terkadang kesel juga kalau lagi berbeda pendapat, dan masing-masing dari kita pertahanin ego. Dan yang paling penting bagiin angket itu ga semudah yang kami pikir. Banyak banget protes, pertanyaan, dll dari para temen-temen yang kami minta untuk mengisi angket kami. Tapi banyak juga hal positif yang bisa kita ambil. kita yang dulu tidak yang tau gimana cara dan ketentuan buat angket, menganalisis data, dll jadi tau gimana caranya. Jadi tambah pengetahuan baruuu deh..



Sumber :
Santrock., J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media Group
Munir., (2008). Kurikulum berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Bandung: Alfabeta


Poster kami... ^_^